Rumah di Gang Buntu
*PRAKKK*
Sabetan sebuah sarung mendarat di kaki kiriku.
"Man, Ibu udah teriak sampe suara abis ngga juga didenger. Banguuuuun.. Subuhan.." teriak Ibu dari samping ranjang.
"Bu, sakit tau. Uhhh..." aku melenguh kesakitan sambil mengusap-usap kaki.
"Mau jadi anak dur-"
"..iya iya bangun ini Bu" aku menggaruk kepala dengan kesal dan segera bangkit dari kasur.
Ah, padahal kalau dilanjutkan mungkin aku bisa dapat harta karun lebih banyak, dengan Ayah.
Tapi, sebelum Ibu meracau dengan kata-kata andalannya, terpaksa kusudahi semua mimpi indahku.
_________________________________________________________________________________
Ayah?
Kalian bertanya di mana Ayahku?
Ayah kerja di pelabuhan, entah di pelabuhan mana.
Ibu selalu bilang, tempat kerja Ayah jauh, kalau dijelaskan juga aku ngga akan ngerti, mungkin tahun depan pulang, mungkin tidak.
"Jangan diharap, yang penting Ayah selalu sms Ibu ngasih kabar dan rutin kirim uang buat kita." jawaban Ibu setiap kali aku bertanya tentang Ayah.
_________________________________________________________________________________
Ibuku seorang figur sempurna.
Manusia yang ku sayang nomor satu di dunia, tentunya selain Ayah.
Ayah ada di nomor dua.
Sejak kecil aku diajak Ibu menemani bekerja -seringnya sih sebagai tukang cuci piring, dari rumah makan satu ke rumah makan lain-.
Aku bertanya, mengapa kita sering pindah tempat kerja.
Ibu bilang si boss galak, Ibu takut.
Aku pun kerap bertanya kenapa aku sering dipanggil bule oleh orang-orang yang ku lihat di rumah makan, padahal namaku Usman.
Ibu bilang bule artinya bagus, pintar. Orang-orang sudah tahu kalau dari kecil aku sudah pintar.
Sejak kecil Ibu selalu memberiku tontonan dari kaset vcd bajakan.
Dari semuanya ada satu yang paling kusuka; One Piece.
Anime yang bercerita tentang bajak laut ini mengingatkanku pada Ayah.
Seringkali aku berimajinasi, jangan-jangan Ayah seorang bajak laut yang menyamar di pelabuhan sambil berekspedisi keliling dunia mencari harta karun?
Hahaha.
Bisa jadi Ibu menyembunyikan identitas Ayah karena Ibu takut kalau orang-orang tahu ternyata suaminya seorang bajak laut.
_________________________________________________________________________________
"Usman, Usman, bangun... Usman, bangun nak!" Ibu berbisik lirih sambil menggoyang-goyangkan badanku dengan suara terisak pelan.
Aku membuka mata perlahan.
Ini bukan mimpi.
Seketika mataku melirik ke arah jam.
11.20 malam.
"Kenapa Bu? Kan belum waktunya Subuh."
"Apapun keadaan Ibu, jangan pernah lupain Ibu, cuma Usman yang Ibu punya, tunggu Ibu ya nak."
Tangis Ibu pecah seraya memelukku erat dikuti oleh suara ketukan pintu rumah yang semakin keras.
Terdengar suara manusia-manusia teriak memanggil nama Ibu di luar sana.
Sayup-sayup ku dengar teriakan "Santi pembunuh!"
Sialan!
Siapa yang sudi bertamu ke rumah reot di ujung gang buntu tengah malam sampai membuat Ibu ketakutan?
Sambil menggendongku ke luar kamar dalam keadaan menangis, Ibu membuka pintu untuk para tamu.
***
9 tahun kejadian itu berlalu, mungkin Ayah sekarang di surga.
Tempat Ibu seharusnya juga bukan di neraka dunia.
![]() |
| Source: Pexels |

0 comments